KETIKA ALAM TIDAK LAGI MEMAKLUMI MANUSIA

(Sinau Proses Belajar Aksi–Reaksi Alam)

Penutup tahun 2025, peristiwa bencana alam di berbagai negara menjadi headline berita hampir setiap hari. Berita tentang banjir, longsor, kekeringan, gunung meletus, dan cuaca ekstrem datang silih berganti. Seolah alam sedang berbicara dengan bahasa yang keras.

Puncaknya, banjir besar yang terjadi di Pulau Sumatera menghadirkan banyak pelajaran penting. Proses pemulihan tidak dapat berlangsung cepat, karena kompleksnya persoalan di lapangan, mulai dari kerusakan lingkungan, tata kelola ruang, hingga kesiapan manusia dalam menghadapi risiko.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa bencana terjadi, melainkan apakah ada batas yang telah kita lewati sebagai manusia?

Terlepas dari berbagai faktor yang melatarbelakangi peristiwa alam, kedudukan manusia sebagai pemimpin di bumi telah diberikan oleh Sang Pencipta. Maka, seyogianya manusia memiliki karakter kesantunan dalam berkolaborasi dengan alam semesta. Alam menyediakan hampir seluruh kebutuhan kehidupan manusia; karenanya, menghormati dan menjaga dengan sungguh-sungguh seharusnya menjadi kewajiban yang tumbuh secara sadar, bukan sekadar wacana moral.

Apakah semua ini masih bisa disebut kebetulan?
Ataukah kita sedang diperlihatkan secara nyata hukum aksi–reaksi antara manusia dan alam semesta?

Alam Punya Hukum dan Batas

Keseimbangan alam merupakan bentuk kolaborasi antar makhluk. Ketika keseimbangan itu dijaga, kehidupan mendapat ruang untuk tumbuh. Namun ketika manusia lalai, alam merespons dengan caranya sendiri, melalui ketidakseimbangan, gangguan, bahkan bahaya yang mengancam kehidupan.

Alam menunjukkan batas bukan untuk menghukum manusia, tetapi untuk mendidik. Alam tidak pernah menjelaskan batasnya melalui teori, melainkan melalui pengalaman langsung: kelelahan yang tak bisa ditawar, medan yang tak selalu bisa ditaklukkan, cuaca yang tak dapat dinegosiasikan, dan waktu yang tak bisa dipercepat. Jika manusia ingin belajar tentang batas, maka alam adalah ruang belajar yang paling jujur.

Kesadaran tentang batas tidak cukup dibicarakan; ia perlu dialami. Karena itu, pendidikan bersama alam semesta tidak berhenti pada refleksi nilai, tetapi menuntut pengalaman nyata yang menghadapkan manusia pada konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakannya.

Mendidik generasi bersama alam berarti memahami bahwa alam memberi waktu belajar, bukan ruang pembiaran. Di dalamnya ada disiplin ritme aktivitas, kemampuan mengukur diri, keberanian mengambil risiko secara sadar, serta kesiapan memikul tanggung jawab. Semua itu membentuk kesantunan manusia dalam berelasi dengan kehidupan.

Sikap Permakluman dalam Pendidikan Bersama Alam

Manusia sering keliru memahami makna dimaklumi. Permakluman kerap disalahartikan sebagai toleransi tanpa batas. Padahal, toleransi yang mendidik tetap membutuhkan tahapan yang tepat dan arah yang jelas.

Alam memberikan contoh yang sangat nyata. Gunung berapi, misalnya, tidak meletus tanpa tanda. Ia memberi isyarat yang bisa dipelajari. Siang dan malam pun berjalan dalam perannya masing-masing, memberi keserasian, bukan saling meniadakan. Alam memaklumi proses, tetapi tidak memaklumi pengabaian yang terus diulang.

Generasi yang diberi ruang permakluman terlalu lebar akan kesulitan memahami batas kebenaran. Mereka tumbuh dengan asumsi bahwa kebebasan dan pemaafan akan selalu tersedia, tanpa perlu tanggung jawab. Dalam jangka panjang, sikap ini dapat melahirkan perilaku semena-mena terhadap keadaan dan lingkungan.

Sebaliknya, ruang permakluman yang terlalu sempit juga bermasalah. Ia dapat membentuk pribadi yang menjalani peran sekadar cukup, bekerja sebatas memenuhi permintaan, tanpa kesadaran nilai dan makna di baliknya.

Alam memaklumi proses belajar manusia, tetapi tidak memaklumi keserakahan yang berulang. Manusia boleh menikmati kekayaan alam; oksigen, cahaya matahari, dan sumber daya lainnya. Namun setiap penyalahgunaan pada akhirnya akan menemukan waktu pertanggungjawabannya.

Dalam pendidikan bersama alam, penting disadari bahwa satu tindakan manusia dapat berdampak pada banyak kehidupan. Oleh karena itu, belajar tentang kesantunan dan hukum timbal balik alam semesta perlu menjadi bagian dari struktur pendidikan, demi menghadirkan keseimbangan ekologis dan kemanusiaan.

Apakah Kita Masih Layak Disebut Khalifah?

Bencana demi bencana yang melanda bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba, dan bukan pula kejadian tanpa sebab. Manusia memang tidak mampu menciptakan tsunami, gempa bumi, atau cuaca ekstrem. Namun, perilaku manusia dalam menjaga, merawat, dan menahan diri memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan alam.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: masih layakkah kita disebut khalifah, jika kepedulian kita pada alam hanya sebatas kepentingan sesaat?

Mendidik diri bersama alam adalah ikhtiar untuk mengembalikan kesadaran itu, belajar menghormati batas, memahami hukum timbal balik, dan menumbuhkan tanggung jawab sebagai manusia.

SCARF — Your Outdoor Partner in Learning

1 thought on “KETIKA ALAM TIDAK LAGI MEMAKLUMI MANUSIA

  1. Gemma Marshall Reply

    Hi,

    We run a hands-on agency that helps clients’ Instagram accounts build authority and reach new audiences. Rather than just “adding numbers,” we focus on tangible benefits:

    1. Cheaper than Ads: We deliver targeted eyes on your profile for a fraction of the cost of running Instagram Ads.
    2. Real Community: We target users genuinely interested in your niche, leading to higher engagement and potential sales.
    3. 100% Account Safety: We don’t use bots. Our team performs every action manually on actual smartphones, keeping your account secure.
    4. Consistent Results: Expect 300+ new, high-quality followers every month who actually stick around.

    I’d be happy to forward you some further information if that would be of interest?

    Kind Regards,
    Gemma

    P.S. If you don’t have a profile yet, we can handle the full setup and optimization for you.

    https://unsubscribe.social/unsubscribe.php?d=scarfoutdoor.my.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *